| Learning for UNAS |
|
| Quantum Genius |
| Rabu, 02 Desember 2009 06:56 |
|
Learning for UNAS or Learning for LIFE ... ?
Judul diatas sebetulnya bukan topik Seminar Quantum Genius yg saya sampaikan di Batam kemarin (29 Nov ’09). Seminar yang dihadiri sekitar 150 peserta dengan judul “10 Langkah Genius” tsb berjalan cukup seru. Disamping para guru, juga dihadiri orang tua, dan para siswa. Contoh singkat lainnya: “Adi siswa SD kelas 1 menangis dan mogok tidak mau sekolah, mengapa kira-kira? Ternyata habis dimarahi oleh bu Guru.” “Nana, selalu takut ikut pelajaran Bahasa Inggris, mengapa kira-kira? Ternyata tidak dapat mengerjakan tugas, takut disuruh maju ke depan” “Budi, selalu bersemangat ikut pelajaran sejarah, mengapa? Ternyata, gurunya sangat menyenangkan, pandai mengajar.” Menurut anda, mana yang anda pilih: Belajar untuk UNAS atau Belajar untuk Kehidupan? Tentu anda memilih belajar untuk Kehidupan. Karena belajar untuk UNAS hanya sesaat sifatnya, dan kita tahu belajar untuk kehidupan adalah esensi pembelajaran yang sebenarnya selama kita hidup. Saya menulis artikel dengan judul diatas, karena di acara tsb, ada banyak pertanyaan yang berfokus pada bagaimana cara belajar terbaik agar nilai UNAS (Ujian Nasional) bisa berhasil dengan baik. UNAS, yg juga sedang jadi pro kontra saat ini, telah demikian pentingnya di dunia sekolah. Perannya begitu sentral dalam menentukan arah pendidikan di sekolah. Bukan saja siswa yang di buat takut dan cemas, namun juga sudah menjadi kekuatiran para guru, sekolah dan orang tua. Mereka takut jangan2 nilai anak mereka tidak memenuhi nilai minimal sehingga tidak lulus sekolah. Akhirnya tidak heran bila para guru bidang studi UNAS menghabiskan banyak waktu belajar sekolah dengan pembahasan soal-demi soal. Melakukan try out ujian, bedah soal, bahkan ada yang kerja sama dengan Lembaga Bimbingan belajar. Begitu besarnya porsi yang diberikan utk menghadapi UNAS, sehingga tanpa sadar sekolah tidak memberi porsi yang cukup dalam pendidikan Life Skills. Padahal kita tahu pendidikan Life skills inilah yang sangat berperanan dalam kesuksesan siswa kelak di masa hidupnya, dan bukan keberhasilan UNAS Dalam seminar tersebut saya banyak bercerita bahwa Teknologi Quantum Genius adalah mengeksplorasi kecerdasan setiap siswa, yang merupakan perpaduan teknik belajar melejitkan prestasi terbaik di sekolah (UNAS) dan pembelajaran Life Skills demi kesuksesan masa depan mereka. Selanjutnya dijabarkan dalam 10 Langkah Genius yaitu: 1.Memiliki Keyakinan sebagai seorang pemenang 2.Memiliki Goal / tujuan hidup di masa depan 3.Memiliki State of Excellence (emosi yang positif) dalam kehidupan 4.Memiliki kebiasaan mengatur waktu dengan bijak 5.Memiliki kemampuan membaca cepat (speed reading) 6.Menguasai mencatat dengan bahasa gambar (mind map) 7.Memiliki teknik memori menyimpan informasi ke Long term memory (super memory) 8.Strategi teknik dalam merevisi pelajaran 9.Paham dalam mengaplikasikan konsep ke dalam soal latihan 10.Teknik dalam mempersiapkan ujian (UNAS) Dengan pemaparan saya, tentang 10 Langkah Genius diatas, para peserta merasa mendapat wawasan dan hal baru. Bahwa tujuan sekolah bukan saja mendapat nilai bagus di sekolah, namun yang jauh lebih penting adalah memberi bekal Life Skills dan menyiapkan anak didik di masa depan. Ada salah seorang peserta (dari seorang guru) yang bertanya: “Saya setuju, tujuan sekolah untuk menyiapkan diri agar seorang anak sukses di masa depan. Pertanyaan saya, Apa sih kunci orang sukses?” Mendapat pertanyaan tersebut, saya lemparkan ke audiens yang lain, apa kriteria kesuksesan di masa depan. Jawaban audiens : dia harus disiplin, jujur, kreatif, kerja keras, ulet, tanggung jawab, pandai melihat peluang, berjiwa pemimpin, pandai bergaul, menguasai bidangnya dsb. Lantas saya tegaskan, yah…. Itulah Life Skills, kecakapan hidup yang diperlukan untuk memecahkan masalah dengan arif dan kreatif. Dari jawaban audiens, tidak ada yang menjawab punya nilai sekolah bagus atau bahkan UNAS bagus. Di sinilah Nampak bahwa Life Skills sangat berperan dalam kesuksesan hidup seorang anak dimasa depan. Seperti sebuah semboyan : Non scholae set vitae discimus. Kita Bukanlah belajar untuk sekolah, tapi untuk kehidupan. Keesokan harinya, saya diundang oleh dua sekolah yang tergolong favorit di Batam yaitu sekolah Yos Sudarso dan Sekolah Kartini. Mereka tertarik dan antusias dengan teknologi Quantum Genius yang saya tawarkan. Di SMA Yos Sudarso, saya mendapat sambutan dari para pengurus sekolah dan berdiskusi tentang kualitas proses pembelajaran sekolah tsb. Nampak sekali sekolah yang menyandang favorit tsb, masih menggunakan model pengajaran yang masih tradisional. Tidak berbeda juga dengan Sekolah Kartini yang lagi giat-giatnya meningkatkan mutu pendidikan di sekolahnya. Dilain kesempatan saya akan cerita lebih banyak tentang proses pengajaran yang efektif. Demikian pengalaman saya berada di Batam, semoga bermanfaat dan memberi pencerahan. Salam Excellent, Markus Tan www.best-camp.com |



