" Learning for UNAS

Designed by:
Life Management Institute Markus Tan
Learning for UNAS E-mail
Quantum Genius
Rabu, 02 Desember 2009 06:56

Learning for UNAS or Learning for LIFE ... ?

 

Judul diatas sebetulnya bukan topik Seminar Quantum Genius yg saya sampaikan di Batam kemarin (29 Nov ’09). Seminar yang dihadiri sekitar 150 peserta dengan judul “10 Langkah Genius” tsb berjalan cukup seru. Disamping para guru, juga dihadiri orang tua, dan para siswa.

Pagi ini, Tomy terlihat malas untuk bangun pagi. Sering kali mamanya yang selalu rajin membangunkan Tommy dibarengi dengan petuah2 seorang ibu. Sekolah harus rajin, pintar, tidak terlambat ke sekolah. Masih dengan rasa kantuk Tommy pun berangkat mandi dan menyiapkan diri ke sekolah. Sesampai menginjakkan kaki di depan gerbang sekolah, dalam pikirannya sudah mulai terbayang sosok wajah galak Bapak guru yang mengajar matematika pagi ini. Membayangkan itu saja perut Tommy terasa mulas dan jantungnya berdebar kencang. Namun tidak ada pilihan lain, kecuali harus mengikuti pelajaran dan aturan sekolah yang sudah demikian ketatnya.

Bel pulang sekolah berbunyi, Tomy merasa senang bisa mengakhiri kehidupannya di sekolah. Namun ini hanya kesenangan dan jeda sesaat, sebab satu jam kemudian dia mengikuti les di bimbingan belajar dekat sekolahnya hingga sore hari baru pulang ke rumah. Di malam hari guru les tambahan untuk pelajaran sudah menemaninya hingga jam Sembilan malam. Begitulah kehidupan Tommy. Hingga suatu hari Tommy tidak mau masuk sekolah, karena akan mendapat sanksi bila tidak mengerjakan tugas yg diberikan gurunya. Kehidupan Tommy, ternyata banyak dialami juga oleh pelajar lainnya di Kota Batam. Kehidupan mereka dihabiskan dengan sekolah, les, bimbingan belajar, dan lainnya.

Seharusnya sifat anak-anak itu suka belajar dan mengenal hal-hal baru. Tapi sering kali itu tidak ditemuinya di sekolah.
Contoh singkat lainnya:
“Adi siswa SD kelas 1 menangis dan mogok tidak mau sekolah, mengapa kira-kira? Ternyata habis dimarahi oleh bu Guru.”

“Nana, selalu takut ikut pelajaran Bahasa Inggris, mengapa kira-kira?
Ternyata tidak dapat mengerjakan tugas, takut disuruh maju ke depan”

“Budi, selalu bersemangat ikut pelajaran sejarah, mengapa?
Ternyata, gurunya sangat menyenangkan, pandai mengajar.”

Menurut anda, mana yang anda pilih: Belajar untuk UNAS atau Belajar untuk Kehidupan?
Tentu anda memilih belajar untuk Kehidupan. Karena belajar untuk UNAS hanya sesaat sifatnya, dan kita tahu belajar untuk kehidupan adalah esensi pembelajaran yang sebenarnya selama kita hidup.
Saya menulis artikel dengan judul diatas, karena di acara tsb, ada banyak pertanyaan yang berfokus pada bagaimana cara belajar terbaik agar nilai UNAS (Ujian Nasional) bisa berhasil dengan baik.

UNAS, yg juga sedang jadi pro kontra saat ini, telah demikian pentingnya di dunia sekolah. Perannya begitu sentral dalam menentukan arah pendidikan di sekolah. Bukan saja siswa yang di buat takut dan cemas, namun juga sudah menjadi kekuatiran para guru, sekolah dan orang tua. Mereka takut jangan2 nilai anak mereka tidak memenuhi nilai minimal sehingga tidak lulus sekolah.

Akhirnya tidak heran bila para guru bidang studi UNAS menghabiskan banyak waktu belajar sekolah dengan pembahasan soal-demi soal. Melakukan try out ujian, bedah soal, bahkan ada yang kerja sama dengan Lembaga Bimbingan belajar. Begitu besarnya porsi yang diberikan utk menghadapi UNAS, sehingga tanpa sadar sekolah tidak memberi porsi yang cukup dalam pendidikan Life Skills. Padahal kita tahu pendidikan Life skills inilah yang sangat berperanan dalam kesuksesan siswa kelak di masa hidupnya, dan bukan keberhasilan UNAS

Dalam seminar tersebut saya banyak bercerita bahwa Teknologi Quantum Genius adalah mengeksplorasi kecerdasan setiap siswa, yang merupakan perpaduan teknik belajar melejitkan prestasi terbaik di sekolah (UNAS) dan pembelajaran Life Skills demi kesuksesan masa depan mereka.

Selanjutnya dijabarkan dalam 10 Langkah Genius yaitu:
1.Memiliki Keyakinan sebagai seorang pemenang
2.Memiliki Goal / tujuan hidup di masa depan
3.Memiliki State of Excellence (emosi yang positif) dalam kehidupan
4.Memiliki kebiasaan mengatur waktu dengan bijak
5.Memiliki kemampuan membaca cepat (speed reading)
6.Menguasai mencatat dengan bahasa gambar (mind map)
7.Memiliki teknik memori menyimpan informasi ke Long term memory (super memory)
8.Strategi teknik dalam merevisi pelajaran
9.Paham dalam mengaplikasikan konsep ke dalam soal latihan
10.Teknik dalam mempersiapkan ujian (UNAS)

Dengan pemaparan saya, tentang 10 Langkah Genius diatas, para peserta merasa mendapat wawasan dan hal baru. Bahwa tujuan sekolah bukan saja mendapat nilai bagus di sekolah, namun yang jauh lebih penting adalah memberi bekal Life Skills dan menyiapkan anak didik di masa depan.

Ada salah seorang peserta (dari seorang guru) yang bertanya: “Saya setuju, tujuan sekolah untuk menyiapkan diri agar seorang anak sukses di masa depan. Pertanyaan saya, Apa sih kunci orang sukses?”

Mendapat pertanyaan tersebut, saya lemparkan ke audiens yang lain, apa kriteria kesuksesan di masa depan. Jawaban audiens : dia harus disiplin, jujur, kreatif, kerja keras, ulet, tanggung jawab, pandai melihat peluang, berjiwa pemimpin, pandai bergaul, menguasai bidangnya dsb.
Lantas saya tegaskan, yah…. Itulah Life Skills, kecakapan hidup yang diperlukan untuk memecahkan masalah dengan arif dan kreatif. Dari jawaban audiens, tidak ada yang menjawab punya nilai sekolah bagus atau bahkan UNAS bagus. Di sinilah Nampak bahwa Life Skills sangat berperan dalam kesuksesan hidup seorang anak dimasa depan.
Seperti sebuah semboyan : Non scholae set vitae discimus. Kita Bukanlah belajar untuk sekolah, tapi untuk kehidupan.

Keesokan harinya, saya diundang oleh dua sekolah yang tergolong favorit di Batam yaitu sekolah Yos Sudarso dan Sekolah Kartini. Mereka tertarik dan antusias dengan teknologi Quantum Genius yang saya tawarkan. Di SMA Yos Sudarso, saya mendapat sambutan dari para pengurus sekolah dan berdiskusi tentang kualitas proses pembelajaran sekolah tsb. Nampak sekali sekolah yang menyandang favorit tsb, masih menggunakan model pengajaran yang masih tradisional. Tidak berbeda juga dengan Sekolah Kartini yang lagi giat-giatnya meningkatkan mutu pendidikan di sekolahnya. Dilain kesempatan saya akan cerita lebih banyak tentang proses pengajaran yang efektif.

Demikian pengalaman saya berada di Batam, semoga bermanfaat dan memberi pencerahan.


Salam Excellent,
Markus Tan
www.best-camp.com
Comments
Add New Search
NoraFox  - respond this topic     |91.201.66.xxx |Thu-07-10 01:46:00
Some time before, I did need to buy a building for my corporation but I didn't
have enough money and couldn't order anything. Thank God my mate adviced to get
the mortgage loans from reliable creditors. Thus, I did that and was happy with
my collateral loan.
Tulis pesan
Nama:
Email:
 
Website:
Judul pesan:
Masukkan kode anti-spam yang tertulis di dalam kotak
Powered by Bestcamp 1.0

1.0 Copyright (C) 2008 Compojoom.com / Copyright (C) 2007 Alain Georgette / Copyright (C) 2006 Frantisek Hliva. All rights reserved."